| Photo/Sefnad Bagau |
Oleh: Bram
Menemukan Makna Natal Setiap tahun umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal. Sebagai wujud solidaritas Allah untuk manusia, Yesus lahir di palungan. Hal ini menjadi cerminan kepedulian Allah yang maha tinggi untuk mengangkat manusia dari kekotoran. Kelahiran Yesus merupakan bentuk ketulusan, kesederhanaan serta cerminan kemurnian bagi siapa saja yang memaknai Natal sebagai bentuk kelahiran baru.
Natal bisa dimaknai berbeda, tergantung manusia itu sendiri menemukan sisi kehidupannya. Secara khusus Natal ditahun ini, banyak manusia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Masih juga manusia yang belum memeroleh keadilan dan tersingkir dari kehidupan masyarakat. Konflik antar manusia masih terjadi hingga kini. (Secara khusus di Yerusalem, sebagai tempat suci tiga agama Abraham). Mereka ini butuh kepedulian, serta perhatian. Mereka sendirian, tanpa ada yang peduli dengan masalahnya. Bagaimana kita sebagai umat Kristiani dalam menyikapi masalah di sekitar? Yesus adalah Kasih. Sedangkan kasih tidak membedakan, tidak pula melihat warna kulit, agama, status sosial dan mungkin pekerjaannya. Ini menjadi tantangan kita sebagai umat Kristiani dalam mewartakan kasih Kristus, ditengah masyarakat. Seperti Yesus mengajarkan, kasih itu murah hati dan tidak sombong, kasih itu adalah ketulusan. Tentu saja Natal tahun ini bisa menjadi wujud ketulusan itu sendiri.
Kita sebagai umat Kristiani bisa menjadi garam dan terang di tengah kesibukan sehari-hari. Begitu juga Natal tidak selalu harus dirayakan dengan hura-hura, hingar bingar pesta yang mungkin menjauhkan kita dari Allah. Karena saudara-saudara kita ada yang merayakan Natal di Lembaga Pemasyarakatan, pedalaman Papua, Kalimantan, lereng gunumg Merapi dsb. Tanpa kue Natal dan baju baru. Bahkan tidak pula di tengah keluarga.
Suasana Natal memang bisa membawa kita pada peremenungan yang dalam. Terutama di pusat perbelanjaan, mall, kantor, pinggir jalan, gereja, rumah tinggal, pernak-pernik Natal begitu meriah. Namun disini jadikan, suasana Natal mampu membawa hati untuk melihat kembali kelahiran Yesus 2000 tahun yang lalu. Dan alangkah baiknya Natal patut menjadi renungan, harapan, refleksi batin, satu tahun perjalanan hidup kita. Yang mungkin sebagai manusia terkadang jatuh dan terjerembab di lubang kotoran. Maka saat inilah kebahagiaan Natal kita tumbuhkan dalam hati.
Dalam head line Kompas hari sabtu tanggal 26 Desember 2009, “Paus Benediktus XVI mengingatkan dan mendesak dunia segera bangun dari egoisme serta berhenti mementingkan diri sendiri dan urusan duniawi lainnnya. Manusia harus menyediakan waktu untuk Tuhan dan hal yang berbau rohani”.Selamat Natal………
Menemukan Makna Natal Setiap tahun umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal. Sebagai wujud solidaritas Allah untuk manusia, Yesus lahir di palungan. Hal ini menjadi cerminan kepedulian Allah yang maha tinggi untuk mengangkat manusia dari kekotoran. Kelahiran Yesus merupakan bentuk ketulusan, kesederhanaan serta cerminan kemurnian bagi siapa saja yang memaknai Natal sebagai bentuk kelahiran baru.
Natal bisa dimaknai berbeda, tergantung manusia itu sendiri menemukan sisi kehidupannya. Secara khusus Natal ditahun ini, banyak manusia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Masih juga manusia yang belum memeroleh keadilan dan tersingkir dari kehidupan masyarakat. Konflik antar manusia masih terjadi hingga kini. (Secara khusus di Yerusalem, sebagai tempat suci tiga agama Abraham). Mereka ini butuh kepedulian, serta perhatian. Mereka sendirian, tanpa ada yang peduli dengan masalahnya. Bagaimana kita sebagai umat Kristiani dalam menyikapi masalah di sekitar? Yesus adalah Kasih. Sedangkan kasih tidak membedakan, tidak pula melihat warna kulit, agama, status sosial dan mungkin pekerjaannya. Ini menjadi tantangan kita sebagai umat Kristiani dalam mewartakan kasih Kristus, ditengah masyarakat. Seperti Yesus mengajarkan, kasih itu murah hati dan tidak sombong, kasih itu adalah ketulusan. Tentu saja Natal tahun ini bisa menjadi wujud ketulusan itu sendiri.
Kita sebagai umat Kristiani bisa menjadi garam dan terang di tengah kesibukan sehari-hari. Begitu juga Natal tidak selalu harus dirayakan dengan hura-hura, hingar bingar pesta yang mungkin menjauhkan kita dari Allah. Karena saudara-saudara kita ada yang merayakan Natal di Lembaga Pemasyarakatan, pedalaman Papua, Kalimantan, lereng gunumg Merapi dsb. Tanpa kue Natal dan baju baru. Bahkan tidak pula di tengah keluarga.
Suasana Natal memang bisa membawa kita pada peremenungan yang dalam. Terutama di pusat perbelanjaan, mall, kantor, pinggir jalan, gereja, rumah tinggal, pernak-pernik Natal begitu meriah. Namun disini jadikan, suasana Natal mampu membawa hati untuk melihat kembali kelahiran Yesus 2000 tahun yang lalu. Dan alangkah baiknya Natal patut menjadi renungan, harapan, refleksi batin, satu tahun perjalanan hidup kita. Yang mungkin sebagai manusia terkadang jatuh dan terjerembab di lubang kotoran. Maka saat inilah kebahagiaan Natal kita tumbuhkan dalam hati.
Dalam head line Kompas hari sabtu tanggal 26 Desember 2009, “Paus Benediktus XVI mengingatkan dan mendesak dunia segera bangun dari egoisme serta berhenti mementingkan diri sendiri dan urusan duniawi lainnnya. Manusia harus menyediakan waktu untuk Tuhan dan hal yang berbau rohani”.Selamat Natal………

0 komentar:
Posting Komentar