Latar Belakang
Keberadaan perusahaan industri dan pertambangan di Papua sampai saat ini dan mungkin masa yang akan mendatang, di pandang oleh masyarakat aslih Papua bahwa; tidak pernah berhasil dan berpatisipasi dalam memberdayakan masyarakat aslih Papua. Dikemukakan hal ini karena mungkin tidak ada kekerjasamaan antara pihak perusahaan dengan Pemerintah Daerah Propinsi maupun Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Karena selama adanya perusahaan raksasa dunia yaitu; PT. Freeport Indonesia mungkin tidak pernah adakan komitmen untuk kontrak kerjasamaan dalam pembangunan fisik diaerah, bukan dia hanya memberhatikan pelayanan-pelayanan social lainya.
Berdasarkan hal ini, Propinsi Papua sebagai Propinsi yang terluas di Indonesia, luas daratannya adalah sekitar 414.800 km2 dan luas perairannya adalah sekitar 280.000 km2 dengan panjang pantainya adalah sekitar 2000 mil laut. Dari luas daratan tersebut maka sebagian besar 84% terdiri dari hutan tropis, yang banyak di tumbuhi oleh tumbu-tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Juga merupakan Propinsi yang memiliki sumber kekayaan alam yang besar baik sumber daya biotic, (hayati) maupun sumber daya fisik (alami). Sumber daya biotic di maksud adalah terdiri dari tumbu-tumbuhan, hewan, jenis sumber daya ini dapat diperbaharui (renewable resources). Sedangkan yang termasuk sumber daya fisik adalah cukup banyak jenisnya, misalnya; air, tanah, udara, pertambangan atau mineral dan lain sebagainya. Sumber daya fisik ini adalah sumber daya yang tidak dapat di perbaharui (non renewable resources). Sekalipun Papua kaya dengan potensi sumber kakayaan alam, namun sangat di sayangkan bahwa tingkat kemajuan social ekonomi warga masyarakat aslih Papau sanagat rendah.
Suku Moni merupakan salah satu suku aslih Papua yang mendiami di wilayah pegunungan tengah (jantung) Papua dan memiliki populasi penduduk + 75.000 jiwa. Dengan pembatasan wilayah, sebelah timur berbatasan dengan Puncak Papua dan Puncak Jaya (gunung mbulu-mbulu), sebelah barat berbatasab dengan Kabupaten Paniai (bayabiru), sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Waropen (ular merah) dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Mimika/Timika (– 50 & Grasberg jia-piakepala air kali ndugu-ndugu ). Yang di dalamnya memiliki potensi kekayaan alam yang masih utuh. Berbatasan wilayah Suku Moni Kabupaten Intan Jaya ini, walaupun secara hukum pemerintah daerah belum jelas/ belum punya data mengenai tapal batas wilayah tetapi, kami berdasarkan data-data secara adat sudah ada batas-batas bahwa; dimana tempat yang orang Moni mencari buah pandang, berburu, rotan itu menujukan bahwa ini wilaya Suku Moni.
Daerah Galae merupakan daerah tanah adat suku Moni yang mendiami oleh beberapa marga, daerah ini juga daerah yang ditinjau dari berbagai aspek pembangunan untuk kedepan.
Daerah ini memiliki luas wilayah sebagai memenuhi syarat untuk pembangunan baik pambangunan fisik maupun non fisik dan potensi alam yang sangat besar.
Lebar wilayah 10.000 hektar
Luas wilayah 150.000 hektar
Panjang 20.000 hektar
Daerah ini perjalanan menuju ke tempatnya 100 kilo jauhnya jalan kaki dua hari dua malam ke lokasi tersebut. Dengan perbatasannya dari gunung grasberg jiapia mata air kali ndugu-ndugu di tembagapura.
Daerah ini merupakan daerah mengandung hasil kekayaan dan sangat banyak mengandung sumber daya alam( SDA) baik bahan mineral maupun hasil hutan. Selain itu terdapat juga banyak flora dan fauna yang menjadi kediaman mereka di wilayah ini.
Daerah ini juga sebagai tempat mencari nafkah kehidupan beberapa marga yang mendiami di wilayah ini, ditempat ini jg mengambil banyak hasil hutan seperti buah pandang, rotan, tempat berburu dan sebagainya.
Adapun Batas_batas lokasinya oleh beberapa marga antara lain :
1. Wandagau
2. Miagoni
3. Migau
4. Dendegau
5. Ugipa
6. Bagau
7. Bagubau
8. Kobogau
9. Sinipa
10. Tipagau
11. Zanambani
12. Yapugau
ALTERNATIF KEBIJAKAN
Beberapa alternatif yang dapat memecahkan masalah kebijakan adalah :
a.
Mematuhi semua hal yang berkaitan dengan Undang-undang dan peraturan lingkungan yang berlaku.
b.
Menjadikan pengelolaan lingkungan suatu perioritas perusahaan yang tinggi, memadukan kebijakan, program, serta pratik-praktik lingkungan yang merupakan unsur hakiki dari manajemen.
c.
Pihak perusahaan maupun Pemerintah Daerah harus mempunyai komitmen dalam peningkatan, pengembangan terhadap pelayanan sosial dalam masyarakat seperti ; perumahan, kesehatan, air bersih, pendidikan dan memberikan dukungan terhadap usaha-usaha masyarakat setempat.
RENCANA IMPLEMENTASI
Mengingat kompleksnya kerusakan lingkungan hidup dan permasalahan yang bersifatlintas sektor dan wilayah, maka dalam pelaksanaan pembangunan diperlukan perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yaitu ;
a. Pembangunan ekonomi,
b. Pembanguan sosial budaya, dan
c. Lingkungan hidup yang berimbang sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan saling memperkuat satu sama lain.
PEMBATASAN WILAYAH
Wilayah ini sudah ada berdasarkan dengan nenek moyang turun-temurun sampai saat ini,sehingga ada beberapa marga ini sudah memiliki hak mereka diatas tanah adat ini. Berdasarkan hal-hal diatas maka , adapun batas-batas lokasi yaitu sebagai berikut:
1. Mulai dari kali hiabu atau telaga induk sampai dengan kubunge, sagatawa, mageodano tempat eksplorasi PT preeport Indonesia muara kali ndugu-ndugu, sampai di mbugidi adalah wilaya marga wandagau
2. Mulai dari singutea sampai di daerah wisata tigagi adalah wilaya marga Miagoni, Dendegau, Ugipa, Kobogau,dan Sinipa.
3. Mulai dari telaga kopi, telaga begasauli, sampai mageodano tempat Eksplorasi PT Freeport Indonesia adalah wilaya marga Migau dan Bagau.
4. Mulai dari telaga Biru wutilimba sampai soaopa adalah walaya marga Bagau, Bagubau,tipagau,kobogau, Zanambani,japugau.
Berdasarkan pembatasan wilaya manusia perlu saling mengenal dan berinteraksi antara satu sama yang lain.
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, memerlukan Sumber Daya Alam yaitu ; berupa tanah, air, udara dan Sumber daya alam lain termasuk SDA yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui. Maka bebera hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan lingkungannya antara lain adalah :
a. Antara lingkungan dan manusia saling mempunyai
kaitan yang erat.
b. Ada kalanya manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya,
sehingga aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya.
C. Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari.
d. Manusia tidak dapat hidup tanpa udara dan air.
e. Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan sumberdaya dan lingkungan di sekitarnya.
Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia.
Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti ;
• Pencemaran Udara,
• Pencemaran Air,
• Pencemaran Tanah
• Serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.
Banyak faktor yang menyebabkan kemerosotan kualitas lingkungan serta kerusakan lingkungan yang dapat di identifikasi dari pengamatan di lapangan, oleh sebab itu dalam makalah ini dicoba diungkap secara khusus sebagai gambaran potret lingkungan hidup di propinsi Papua.
FAUNA DAN FLORA
Fauna
Wilayah ini merupakan wilayah wisata dengan daerahnya sangat luas dan dihiasi oleh berbagai anekaragam antra lain:
Gaharu, daun talas, anggrek, gelombang cinta, bungga matahari, bungga gelama bolia, rotan, buah pandang dan bjerbagai macam tumbu-tumbuhan yang menguasai di daerah ini.
Flora
Wilaya ini ada berbagai fauna yang mendiami antara lain:
Kanguru dua (2) jenis (coklat dan hitam) kasuari, lau-lau, landak raksasa, bebek liar, cenderawasih, ayam hutan, burung mambruk, burung maleo, burung merpati, kaka tua burung nuri, dan ada berbagai macam jenis ,burung yang ada di wilayah ini namun tak bisa sebut- persat.
TELAGA YANG ADA DI WILAYA GALAE
1. Wutili ( Telaga Biru)
2. Bogolejagale (Telaga Burung)
3. Woh Uli (Telaga Hitam)
4. Hinajo (Telaga Induk)
5. Kopinajo (Telaga Kopi)
6. Tigauli ( Telaga Tiga)
7. Maniuli (Telaga Mani)
8. Buguauli ( Telaga Merah)
9. Begasauli ( Telaga Garam)
10. Haimenda (Telaga Susun Segi Tiga)
Di sekitar lereng air telaga ini menghiasi dengan berbagai hasil kekayaan alam baik flora dan fauna bahkan bahan mineral seperti: emas, batu bara, tembaga, uranium, gas alam dan lain-lain sebagainya.
Telaga ini juga di hiasi dengan berbagai buah- buahan antara lain: pisang, buah belanda, lemon, jeruk dan gaharu yang di tanami secara alami (tumbuhan sendiri di lereng telaga) demikian juga di daerah inipun sebagai tempat kediaman bebek hutan, angsa yang hidup bangun di pingir-pingir tersebut oleh bebek dan angsa itu.
ULASAN
Sebenarnya di daerah ini sangat cocok dengan daerah wisata tetapi karna di daerah papua ini belum di sentu oleh pembagunan sehingga masih sangat alami, maka itu kita melihat dari pandagan umun dan pandagan dunia bahkan di mata perusahan daerah ini adalah daerah yang banyak mengandung hasil kekayaan alam, bahkan berbagai hasil kekayaan hutan dan hasil kekayaan hutan yang mengandung;di dalamnya bahkan masih hutan tropis, tak bisa di pisahkan dari pohon-pohon dan lain-lain.
PENBAHASAN EKSPROLASI
Berdasarkan hasil kekayaan ini PT freeprot indonesia masuk eksprolasi di wilayah tanah adat suku moni atau migani di mbugudi tanpa sepengetahuan hak wilayahnya. PT Freeport indonesia pernah membuat helipath di wilayah tanah adat ini antara lain:
1. Mageodanopa Satu Buah Helipath
2. Kubunge Satu Buah Helipath
3. Soeaopa Satu Buah Helipath
4. Jogodogo di bahwa gunung Mbugidi Satu Buah Helipath
pada saat mereka eksprolasi mbugidi di galae pada tahun 1990 sampai tahun 1994 waktu itu PT Freeport masuk operasi rintis dari soaopa, mageodanopa kubunge samapai di mbugidi tampa sepengetahuan haknya tetapi masuk secara liar ( pencuri).
Sehingga dulunya gambang mencari nafkah atau tempat berburu kus-kus, hasil hutan seperti buah pandang, dan lain-lain.
Tetapi setelah eksprolasi sangat merusak dalam arti mengusir penghuni seperti burung-burung, kus-kus, kanguru dan menebang hutan sembarangan di wilayah tanah adat ini sehingga ketenangan ekosistem sangat mengpengaruhi oleh PT Freeport indonesia. Oleh seba itu kami dari intelektual memikir bahwa PT Freeport indonesia masuk di wilayah ini seijin siapa? Dan masuk melalui siapa? Ini pertanyaan besar untuk menjawab hal ini dari PT Freeport kepada kami atau suku moni.
Maka itu perusahan PT Freeport indonesia harus bertanggung jawabkan atas kerusakan hutan dan wilayah.
Mengugat dari semua kaum intelektual toko adat suku,toko pemuda,toko pemerintah dan toko gereja yang suku moni migani di wilayah hak adat lembah Ndugu-ndugu di ngalae dan sekitar wilaya moni sebagai berut:
1. Septinus Wandagau (Mahasiswa)
2. Serwanus Wandagau(Mahasiswa)
3. Melkias Wandagau (Mahasiswa)
4. Yerry Miagoni(Mahasiswa)
5. Yeffry Miagoni(Mahasiswa)
6. Antomina Wandagau(Mahasiswa)
7. Agus Miagoni(Mahasiswa)
8. Denys Miagoni Spd.Msi (Intelektual Suku moni)
9. Yulius Wandagau SE(Intelektual Suku moni)
10. Piliphus Wandagau (Toko Pemerintah,Kepalah distrik)
11. Pdt Aman Miagoni (Toko gereja)
12. Yehuda Bagau (Toko Pemuda)
13. Damianus Yapugau(Toko Pemuda)
14. Yakub Miagoni (Toko Adat)
15. Pdt Pilemon Miagoni (Toko Gereja)
16. Ayub Kobogau ( Mahasiswa)
Ini adalah sebuah pernyataan sikap yang kami naikan dengan alasan bahwa, bila di kemudian hari perusahaan mau masuk untuk boor, survey dan bereksplorasi di wilaya ini maka harus ada ganti rugi dari pihak PT Freeport Indonesia yang sifatnya bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan tanah adat wilaya Moni yang ditempati oleh suku Migani turun temurun sampai pada saat ini, masyarakat adat setempat masih menghormati wilayah adat, karena mereka percaya bahwa disinilah tempat asal mereka, tempat berlindung mereka dan tempat mencari makanan serta mereka menggantungkan diri mereka pada alam dan lingkungan di sekitar gunung Mbugidi di Galae-Distrik Homeyo-Kabupaten Intan Jaya .