Seperti yang kita tahu dari sejarah, bahwasanya sebelum datang masa patriarkat seperti yang kita
Dan keadaan ini berlangsung hingga ratusan tahun sebelum akhirnya kaum laki-laki menemukan setan dan Tuhan.
Yupe!! Tuhan dan setan. Tuhan dan setan ditemukan oleh kaum pria untuk mengambil kekuasaan yang dimiliki kaum perempuan atas diri mereka.
Bukan, bukan dengan cara memberontak pada kaum perempuan atau merayu mereka agar kaum laki-laki diberi kesempatan untuk ikut memainkan peranan yang sedikit penting. Yang mereka lakukan adalah mempengaruhi kaum mereka sendiri dengan rasa takut. Mitos pun diciptakan. Dan dari sini lahirlah iblis atau setan. Mereka mengarang sebuah cerita tentang seorang ibu yang melahirkan seorang anak laki-laki yang setelah besar, entah karena sebab apa berubah menjadi monster jahat yang ingin merebut kekuasaan sang ibunda. Sang anak durhaka yang telah jadi monster itu kemudian di usir oleh ibunya. Tapi lhadalah,
Dari sinilah kemudian rasa cemas itu disisipkan. Bagaimana kalau kemudian sang dewi (kaum ibu) yang selama ini mereka muliakan ternyata adalah seorang anak nakal yang sedang menyamar tadi? Dan tepat seperti teori yang menyatakan bahwa jika satu kebohongan diucapkan berkali-kali, maka akan diyakini sebagai kebenaran. Kaum laki-laki pun dihinggapi rasa takut itu. Dan yang terjadi kemudian adalah munculnya rasa takut massal diantara mereka. Baik lelaki maupun wanita mulai meyakini bahwa iblis yang dalam hal ini anak nakal itu memang benar-benar ada di antara mereka, mungkin sudah berdiam diri sebagai tetangga, bahkan mungkin juga adalah orang yang tadi pagi mencari kutu dikepalanya. Sontak, keadaan takut ini kemudian melahirkan satu opini bahwa satu-satunya cara untuk melawan iblis tadi adalah dengan kekuatan dan bukan kelembutan. Jelas, kekuatan hanya dimiliki kaum pria. Maka dari sinilah derajat laki-laki yang semula hanya berfungsi sebagai pencari nafkah dan membuahi sel telur, naik derajat menjadi pelindung bagi kaum perempuan. Untuk itu pada gilirannya, diciptakan juga Dewa disamping mitos Dewi yang sudah lebih dulu ada. Fungsi dari diciptakannya Dewa sendiri adalah untuk melindungi sang Dewi yang agung tadi.
Dan karena serakah adalah fitrah bagi manusia, maka naiknya derajat ini tidak serta merta membuat kaum laki-laki puas. Ia ingin lebih dari itu. Maka Dewa yang semula fungsinya hanya sebagai pelindung dan pendamping bagi sang Dewi lambat laun bergeser fungsi menjadi pemimpin bagi sang Dewi itu sendiri.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah setelah kaum lelaki tak lagi merasa takut, mengingat kekuasaan kini ada digenggamannya? Jawabanya, TIDAK!! Bahkan ketakutan ini semakin memburu kaum laki-laki. Bagaimana kalau kemudian kekuasaan yang direbut dengan susah payah ini suatu saat bakal terebut kembali? Bagaimana seandainya kaum perempuan tahu bahwa cerita tentang anak nakal, iblis dan Dewa hanyalah isapan jempol belaka? Perasaan cemas akan hal di atas terus memburu kaum lelaki. Maka dari itu watak sang Dewa pun diolah sedemikian rupa oleh kaum lelaki dari yang semula penyayang, pelindung dan pengasih, berubah menjadi sangat maskulin, absolut, pencemburu, bengis, gampang murka, senang disembah, dan sebagainya demi menghindari terebutnya kembali posisi kekuasaan itu.
Kenapa watak Dewa harus berubah sehoror itu! Ya karena dengan begitu, hegemoni kaum lelaki atas diri perempuan tak akan pernah tergoyahkan. Bagaimana tidak, bukankah dengan seperti ini lelaki seperti membangun sebuah sistem yang bergerak mekanis seperti burung pada jam dinding. Jika ada perempuan (dalam hal ini istri) tidak menurut pada suami maka Dewa akan memberi azab yang pedih. Jika istri menolak melayani suami di kasur maka Dewa pun akan melaknat. Dan satu lagi, KETENTUAN DEWA TAK DAPAT DIGANGGU GUGAT, AWAS YA KALO TIDAK!! Meski tentu saja tengan bahasa yang lebih santun dan penuh bunga.
Lebih parah, lambat laun bukan saja peran sang Dewi yang dikebiri, tapi lebih dari itu karakter sang Dewi pun dihapus. Jika ada yang meyakini disamping Dewa ada Dewi, maka kafirlah ia. Dewa kan maha esa dan tak beranak apalagi diperanakkan, mosok punya bini??
Dan manusia modern menyebut Dewa itu dengan nama lain : Tuhan.
Sumber :IssU


0 komentar:
Posting Komentar